Rabu, 05 Oktober 2016

Kenapa Orangutan?


Manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan
Sepenggal kalimat di novel Supernova Partikel milik Dewi Lestari yang saya baca di tahun 2012 membuat saya penasaran akan orangutan dan membawa saya mengenal sebuah tempat bernama Tanjung Puting yang terletak di Kalimantan Tengah.

Jika selama ini saya mengenal Borneo dari keindahan bahari di Pulau Derawan dan kenikmatan makanan Pontianak saja, saya seperti tersadarkan bahwa ada tempat yang merupakan pusat konservasi orangutan terbesar di dunia yang terletak di salah satu bagian di Indonesia. Rasa penasaran saya mengenai orangutan terjawab ketika berhasil menginjakkan kaki di Tanjung Puting 2 tahun kemudian, terasa sekali perhatian dunia terhadap orangutan yang terbukti dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung.
Alasannya populasi orangutan terus menurun diiringi dengan menyempitnya luas hutan yang menjadi habitat mereka, ekploitasi orangutan dan perdagangan liar. Sedangkan orangutan hanya dapat tinggal di hutan hujan tropis yang terdapat di Pulau Sumatera dan Kalimantan, jika tidak dijaga maka bukan tidak mungkin populasi orangutan akan punah suatu hari nanti.
Jika berbicara mengenai konservasi dan kelestarian hutan terdengar terlalu muluk dan jauh dijangkau bagi saya yang merupakan “orang kota”. Namun jika melihat Tanjung Puting sebagai tempat konservasi sekaligus tempat wisata, maka upaya pelestarian orangutan menjadi jauh lebih masuk akal untuk dilakukan. Dengan mengunjungi Tanjung Puting secara tidak langsung sebenarnya membantu kelangsungan hidup orangutan dengan menunjukkan kepedulian kita terhadap makhluk hidup menggemaskan ini. Selain itu kita dapat membantu perekonomian masyarakat lokal dalam hal pariwisata sehingga masyarakat lokal juga lebih menjaga orangutan, si primadona di daerah mereka.
Selamat Datang di Tanjung Puting


Disisi lain, perjalanan ke Tanjung Puting telah menjadi cerita perjalanan saya yang berbeda dibandingkan tempat lainnya dan memberikan kesan tersendiri bagi saya pribadi.

4 pengalaman berkesan yang didapatkan ketika berkunjung di Tanjung Puting:



1.     Menyaksikan langsung interaksi orangutan dengan alam secara langsung
Melihat orangutan di Tanjung Puting tentu berbeda dibandingkan kita melihat mereka di kebun binatang atau tayangan Discovery Channel di televisi, disini kita bisa melihat mereka secara langsung dengan segala tingkah laku mereka. Orangutan pada dasarnya merupakan makhluk penyendiri sehingga agak sulit untuk bertemu dengan mereka secara langsung, namun di Tanjung Puting terdapat beberapa feeding point yang merupakan tempat berkumpul para orangutan. Pada jam-jam tertentu ranger meletakkan makanan seperti buah-buahan dan susu di titik tersebut dan menirukan suara orangutan untuk memancing para orangutan mendekat. Tak lama, ujung-ujung pohon mulai bergoyang yang menunjukkan adanya pergerakan di dalamnya dan disusul mulai terlihat beberapa orangutan mendekati feeding point. Biasanya diawali oleh beberapa orangutan betina dan jantan muda, mereka akan segera mengambil makanan tersebut sebanyak-banyaknya sebelum orangutan jantan yang berkuasa di daerah tersebut datang. Uniknya, orangutan disini memiliki nama untuk memudahkan ranger melakukan identifikasi guna mengawasi kesehatan mereka. Contohnya kali ini Doyok, orangutan jantan si penguasa, berlahan berayun dari satu pohon ke pohon lainnya mendekat ke sumber makanan. Beberapa orang utan muda bergegas menghindar dan meninggalkan feeding point sebelum Doyok tiba. Hanya tinggal 1 orangutan betina dan anaknya yang lucu dalam gendongan yang masih makan dengan tenang disitu. Rupanya si betina adalah “istri” dari Doyok, hingga akhirnya 1 keluarga orangutan ini yang menjadi pusat perhatian para wisawatan di sekitar feeding point. Duduk mengamati tingkah laku mereka membuat saya merasa lebih mengenal mereka dan menyadari bahwa mereka sangat mirip dengan manusia dalam cara berinteraksi satu sama lain.



2.     Bermalam di klotok ditemani suara alam
Satu-satunya alat transportasi untuk menyelusuri Sungai Sekonyer adalah klotok, perahu 2 tingkat bertenaga mesin yang berfungsi sebagai tempat menginap di malam hari. Pada mulanya, klotok merupakan alat transportasi utama bagi masyarakat Kalimantan untuk mengantar bahan makanan bahkan kayu hasil hutan, sekarang klotok telah beralih fungsi sebagai perahu sewaan bagi wisataan. Bermalam di klotok merupakan pengalaman tersendiri karena kita akan ditemani oleh suara alam 24 jam bahkan pada malam hari kita bisa mendengar suara percikan air disekeliling klotok yang menandakan aktifnya buaya sungai di Sungai Sekonyer. Seluruh aktifitas berpusat diatas klotok membuat kita sangat tergantung dengan pasokan air dari Sungai Sekonyer. Sungai Sekonyer seperti sungai di Indonesia pada umumnya, tidak berwarna jernih melainkan berwarna kecoklatan di daerah hulu akibat kerusakan hutan dan ketika memasuki sungai lebih dalam, air sungai berubah berwarna hitam jernih yang merupakan warna alami Sungai Sekonyer mencerminkan pantulan akar pepohonan di sekitar sungai. Air hitam jernih ini sangat menyegarkan untuk mandi dan dikonsumsi, jauh berbeda dengan air sungai kecoklatan yang cukup mengganggu bagi saya. Jika manusia saja terganggu dengan pencemaran air tersebut, bisa dibayangkan bagaimana orangutan harus bergantung pada air coklat untuk bertahan hidup.



3.     Teman jalan, si Bekantan
Disekeliling Sungai Sekonyer juga merupakan habitat Bekatan, atau yang oleh orang lokal disebut Monyet Belanda. Bekantan berbeda dari jenis primate lainnya karena bulunya yang berwarna pirang dan berhidung mancung. Berbeda dengan orangutan yang lebih tenang, bekantan aktif bergerak berayun dari satu pohon ke pohon lainnya. Tak jarang mereka melompat keatas klotok untuk mencapai seberang sungai, rupanya mereka memanfaatkan klotok yang berjalan untuk menghindari serangan buaya sungai.

4.     Christmas Tree “kunang-kunang”
Sungai Sekonyer tak henti-hentinya menyuguhkan keindahaannya, bahkan dipenghujung perjalanan saya bertemu dengan sekawanan kunang-kunang di pohon besar di tepi Sungai Sekonyer. Pohon tersebut tak ubahnya pohon natal dengan kelap kelipnya yang menyilaukan mata namun cahaya tersebut berasal dari kunang-kunang. Pemandangan yang luar biasa bahkan ketika bersanding dengan gemerlap bintang diatas kepala saya. Akhirnya kami memutuskan untuk sedikit meredupkan lampu klotok dan suguhan makan malam saya saat itu menjadi makan malam termewah saya di tengah alam Indonesia yang megah.


Pulang dari Tanjung Puting saya melihat satu kenyataan miris bahwa tempat yang memberikan kita keindahan alam dengan segala isinya tega kita rusak. Kita sebagai manusia dengan mudahnya merusak hutan dengan ekpoitasi isi hutan, pembakaran hutan, pembukaan lahan besar-besaran yang tidak bertanggungjawab demi kepentingan manusia telah menyebabkan musnahnya rumah bagi orangutan. Orangutan bahkan dianggap hama di atas rumah mereka sendiri karena mengganggu kehidupan manusia yang telah merampas hutan untuk diubah menjadi perkebunan. Perjalanan ini menyadarkan saya bahwa keserahakan manusia bisa menjadi tidak terbatas dan bersedia mengorbankan apa saja demi keuntungan pribadi semata. Padahal Sungai Sekonyer, Tanjung Puting, dan hutan hujan tropis di Kalimantan merupakan rumah dari orangutan dan ratusan spesies hewan lainnya dan juga seharusnya menjadi rumah bagi kita manusia, yang selayaknya dijaga kelestariannya. Saya mau pulang sekali lagi ke Tanjung Puting.

“Manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan, namun sisa tiga persen itu telah menjadikan manusai pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja DNA berbeda” (Supernova Partikel – Dewi Lestari)

#SaveOrangutan